“Pengaruh Hutang Luar Negeri Terhadap Perekonomian Indonesia”

Tugas Sospol Tulisan Bebas

Kata Pengantar

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh perpustakaan sekolah terhadap mutu pendidikan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Pengaruh Hutang Luar Negeri Terhadap Perekonomian Indonesia”

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak  yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Pendahuluan

Pembangunan ekonomi merupakan tahapan proses yang mutlak dilakukan oleh

suatu bangsa untuk dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat

bangsa tersebut. Pembangunan ekonomi suatu negara tidak dapat hanya dilakukan

dengan berbekal tekad yang membaja dari seluruh rakyatnya untuk membangun,

tetapi lebih dari itu harus didukung pula oleh ketersediaan sumberdaya ekonomi, baik

sumberdaya alam; sumberdaya manusia; dan sumberdaya modal, yang produktif.

Dengan kata lain, tanpa adanya daya dukung yang cukup kuat dari sumberdaya

ekonomi yang produktif, maka pembangunan ekonomi mustahil dapat dilaksanakan

dengan baik dan memuaskan. Pada banyak negara dunia ketiga, yang umumnya memiliki tingkat kesejahteraan rakyat yang relatif masih rendah, mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonomi memang sangat mutlak diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi dari negara-negara industri maju. Oleh karena masih relatif lemahnya kemampuan partisipasi swasta domestik dalam pembangunan ekonomi, mengharuskan pemerintah untuk mengambil peran sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Seolah-olah segala upaya dan strategi pembangunan difokuskan oleh pemerintah untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dari tahun ke tahun. Akibatnya, pemerintah negara-negara tersebut harus mendatangkan sumberdaya ekonomi dari negara-negara lain untuk dapat memberikan dukungan yang cukup bagi pelaksanaan program pembangunan ekonomi nasionalnya. Sumberdaya modal merupakan sumberdaya ekonomi yang paling sering

didatangkan oleh pemerintah negara-negara sedang berkembang untuk mendukung

pembangunan nasionalnya. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan sumberdaya

modal dalam negeri. Sumberdaya modal yang didatangkan dari luar negeri, yang

umumnya dari negara-negara industri maju, ini wujudnya bisa beragam, seperti

penanaman modal asing (direct invesment), berbagai bentuk investasi portofolio

(portfolio invesment) dan pinjaman luar negeri. Dan, tidak semuanya diberikan sebagai

bantuan yang sifatnya cuma-cuma (gratis), tetapi dengan berbagai konsekuensi baik

yang bersifat komersial maupun politis.

Banyak pemerintah di negara dunia ketiga menginginkan untuk mendapatkan

modal asing dalam menunjang pembangunan nasionalnya, tetapi tidak semua berhasil

mendapatkannya, kalau pun berhasil jumlah yang didapat akan bervariasi tergantung

pada beberapa faktor antara lain (ML. Jhingan : 1983, halaman 643-646):

1. Ketersediaan dana dari negara kreditur yang umumnya adalah negara-negara

industri maju.

2. Daya serap negara penerima (debitur). Artinya, negara debitur akan mendapat

bantuan modal asing sebanyak yang dapat digunakan untuk membiayai investasi

yang bermanfaat. Daya serap mencakup kemampuan untuk merencanakan dan

melaksanakan proyek-proyek pembangunan, mengubah struktur perekonomian, dan

mengalokasikan kembali resources. Struktur perekonomian yang simultan dengan

pendayagunaan kapasitas nasional yang ada akan menjadi landasan penting bagi

daya serap suatu negara.

3. Ketersediaan sumber daya alam dan sumberdaya manusia di negara penerima,

karena tanpa ketersediaan yang cukup dari kedua sumberdaya tersebut dapat

menghambat pemanfaatan modal asing secara efektif.

4. Kemampuan negara penerima bantuan untuk membayar kembali (re-payment).

5. Kemauan dan usaha negara penerima untuk membangun. Modal yang diterima dari

luar negeri tidak dengan sendirinya memberikan hasil, kecuali jika disertai dengan

usaha untuk memanfaatkan dengan benar oleh negara penerima. Sebagaimana

dikatakan Nurkse (1961: 83), bahwa modal sebenarnya dibuat di dalam negeri.

Sehingga, peranan modal asing sebenarnya adalah sebagai sarana efektif untuk

memobilisasi keinginan suatu negara.

Pembahasan

  1. Pengertian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pinjaman berarti utang yang dipinjam dari pihak lain dengan kewajiban membayar kembali. Sedangkan Pinjaman Luar Negeri adalah sejumlah dana yang diperoleh dari negara lain (bilateral) atau (multilateral) yang tercermin dalam neraca pembayaran untuk kegiatan investasi, menutup saving-investment gap dan foreign exchange gap yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta.

Menurut SKB No. 185/KMK.03/1995 dan Nomor KEP.031/ KET/5/1995 antara Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas : Pinjaman Luar Negeri adalah penerimaan negara baik dalam bentuk devisa, dan atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan atau jasa yang diperoleh dari pemberian pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.

Persyaratan pinjaman luar negeri bersifat ekonomis maupun non ekonomis. Persyaratan ekonomis antara lain: bunga, tenggang waktu pembayaran, masa pembayaran kembali, commitment fee, denda/penalty, TOR Project, feasibility study, project owner, contracts, local cost, tender, skema pembiayaan dll. Sedangkan yang bersifat non ekonomis misalnya persyaratan yang menjunjung HAM, perburuhan dan perbaikan lingkungan.

  1. Data Pinjaman Luar negeri
  1. Dampak Pinjaman luar Negeri

pinjaman luar negeri dalam jangka pendek dapat menutup defisit APBN, dan ini jauh lebih baik dibandingkan jika defisit APBN, sehingga memungkinkan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan dengan dukungan modal yang relatif lebih besar, tanpa disertai efek peningkatan tingkat harga umum. Dengan demikian pemerintah

dapat melakukan ekspansi fiskal untuk mempertinggi laju pertumbuhan ekonomi

nasional. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi berarti meningkatnya pendapatan

nasional, yang selanjutnya memungkinkan untuk meningkatnya pendapatan per Kapita.

Dalam jangka panjang, ternyata utang luar negeri dapat menimbulkan

permasalahan ekonomi pada banyak negara debitur. Di samping beban ekonomi yang

harus diterima rakyat pada saat pembayaran kembali, juga beban psikologis politis

yang harus diterima oleh negara debitur akibat ketergantungannya dengan bantuan

asing walaupun terdapat peningkatan pendapatan perkapita maupun laju pertumbuhan tinggi, bukan berarti bahwa Negara tersebut sudah maju tetapi dihitung juga dari banyaknya hutang yang dimiliki Negara tersebut.

  1. Solusi terhadap Hutang Luar Negeri
  1. Meningkatkan daya beli masyarakat, yakni melalui pemberdayaan ekonomi pedesaan    dan pemberian modal usaha kecil seluasnya.
  2. meningkatkan pajak secara progresif terhadap barang mewah dan impor. Realitas yang ada saat ini pemerintah mengambil pajak barang mewah
  3. Konsep pembangunan yang berkesinambungan, berlanjut dan mengarah pada satu titik maksimalisasi kekuatan ekonomi nasional, melepaskan secara bertahap ketergantungan utang luar negeri.
  4. menggalakan kebanggaan akan produksi dalam negeri, meningkatkan kemauan dan kemampuan ekspor produk unggulan dan membina jiwa kewirausahaan masyarakat. Negeri Indonesia ini sebenarnya kaya akan Sumber daya alam unggulan sehingga bila kita manfaatkan secara maksimal maka akan memberikan devisa negara,
  5. mengembangkan sumber daya manusia berkualitas dan menempatkan kesejateraan yang berkeadilan dan merata

Penutup

  1. Kesimpulan

Indikator bahwa Negara tersebut mengalami kemajuan atau perubahan struktur ekonomi, tidak hanya dilihat dari tingginya pendapatan perkapita yang didapat Negara tersebut dan juga laju pertumbuhan yang tinggi. Namun Banyaknya hutang luar negeri suatu Negara, bisa saja apa yang Negara peroleh, semata-mata hanya untuk membayar hutang Luar negeri

  1. Saran

Negara Indonesia akan lunas dari hutang atau pinjaman luar negeri apabila adanya kemauan rakyat untuk berubah ( Change will) dan bergerak bersama untuk menghasilkan negara Indonesia yang mandiri dan bertekad mengakhiri utang luar negeri serta adanya sinergi antara legisatif, eksekutif dan yudikatif.

Daftar Pustaka

http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting

http://www.bppk.depkeu.go.id/index.php/2008042169/jurnal-keuangan-publik/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-rendahnya-daya-serap-pinjaman-ln-ibrd/tinjauan-literatur.html

About ariestafifi

I wanna grow up once again! :)
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s